Alkisah tersebutlah dua orang sahabat yang sedang melakukan perjalanan. Mereka berdua melewati hari dalam kebersamaan hingga suatu ketika mereka mulai berselisih faham. satu dan yang lainnya beradu argumen mencari pembenaran. Tiba - tiba tanpa diduga sahabat yang satu menampar wajah sahabat lainnya. Sahabat yang ditampar sangat terkejut ia tak pernah menduga bahwa sahabat yang sangat disayanginya tega melakukan itu, Sahabat yang ditampar tadi merasa begitu terluka ia menangis tanpa bersuara sementara sahabat yang menamparnya hanya diam tak berkata apa - apa. kemudian sahabat yang ditampar tadi mengambil sebatang ranting dan menulis diatas pasir "hari ini sahabat yang ku sayangi telah menamparku". Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan dalam kebisuan.
Hingga sampailah mereka pada sebuah sungai. Mereka berhenti mencoba mencari cara melewati sungai tersebut. sungai itu begitu deras tanpa jembatan atau titian sebagai jalan. Tiba - tiba sahabat yang ditampar tadi terperosok jatuh ke sungai . Tanpa berpikir panjang sahabat yang menampar tadi melompat terjun ke dalam sungai untuk menyelamatkan sahabatnya. Ia lupa bahwa ia tak bisa berenang tapi ia tak perduli dalam benaknya hanya ada sahabatnya yang mulai menjauh terseret terbawa arus. Dengan susah payah akhirnya ia berhasil menarik sahabatnya dan membawanya ke tepi sungai. Dalam lelah mereka masih tetap diam lalu kemudian sahabat yang pernah ditampar tiba-tiba berdiri ia berjalan menghampiri sebuah batu dengan berkaca-kaca ia memahat diatas batu tersebut dan menulis " hari ini sahabat yang ku sayangi telah menyelamatkan ku ".
Tanpa disadari sahabat yang pernah menamparnya telah berdiri disampingnya dan berkata " wahai sahabat apa yang sedang kau lakukan dulu ketika aku menamparmu kau menuliskannya di atas pasir dan sekarang ketika aku menyelamatkan mu kau pun memahatnya diatas batu ?". Sahabat yang pernah ditampar tersebut tersenyum dan menjawab " Wahai sahabat ketika dulu kau menamparku aku merasa begitu terluka hingga aku menuliskannya diatas pasir, Aku berharap luka dan kesedihanku akan hilang bersama terbangnya tulisanku oleh angin yang bertiup kencang atau tersapu oleh hujan yang nanti akan datang. Lalu ketika kau menyelamatkanku aku bergegas memahatnya diatas batu karena aku akan selalu mengingatnya didalam hatiku seperti pahatanku yang akan selalu ada meski angin bertiup kencang atau meski ketika hujan datang".
Sahabat yang menampar tadi terpaku dan menangis ia kemudian meminta maaf karena telah menampar sahabatnya. Sahabat yang ditampar menjawab aku telah memaafkanmu seharusnya akulah yang harus berterima kasih karena engkau telah menyelamatkan hidupku tanpa memperdulikan nyawamu sendiri. Akhirnya mereka menangis dalam pelukan hangat persahabatan.
Sahabat sekalian, semoga kisah tersebut bisa menjadi hikmah bagi kita semua, terkadang dalam sebuah hubungan kita akan dibenturkan pada perbedaan dan permasalahan. Tapi tidak lantas kemudian perbedaan dan permasalahan tersebut membuat kita saling membenci satu sama lain. Karena sebesar apapun kesalahan tetap akan selalu ada kebaikan dalam diri setiap orang. Karenanya jika suatu hari nanti kita berada pada titik tersebut cobalah untuk selalu mengingat kebaikan dibanding mengenang kesalahan karena dengan begitu kita akan lebih mudah untuk memaafkan.
Sign up here with your email
